Jumat, 28 Juli 2017

2 Jenderal Melawan Seorang Tukang Kayu


OPINI.WIN. Bersatunya 2 orang mantan jenderal untuk menghadapi seorang tukang kayu dalam pertarungan di pilpres 2019 nanti, samar-samar mulai terbaca oleh publik...
Tukang kayu yang 1 ini bisa di bilang sebagai seorang yang tidak memiliki background politik yang sangat mumpuni...
Dibandingkan dengan 2 orang mantan jenderal seperti SBY & Prabowo dalam hal (jam terbang) Politik, tentu saja beliau ini tidak ada apa - apanya...
Tetapi kemarin kita telah disuguhi pemberitaan oleh beberapa media tentang pertemuan yang dilakukan oleh 2 mantan jenderal ini di puri cikeas pada Kamis 27 Juli 2017...
Banyak spekulasi yang beredar tentang maksud & tujuan pertemuan tersebut & salah 1 nya adalah tentang upaya untuk membangun kekuatan bersama untuk menghadapi seorang tukang kayu yang telah di percaya Tuhan memimpin & memperbaiki negeri ini...
Saya pun secara pribadi sangat sependapat dengan opini yang berkembang bahwa SBY & Prabowo melakukan pertemuan sebagai upaya untuk membangun kekuatan dalam menghadapi Pak Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019 nanti...
Jika opini ini benar, pertanyaannya adalah...
Mengapa 2 mantan jenderal ini bertemu untuk membangun kekuatan politik secara bersama-sama?
Sebegitu tidak percaya dirinya kah mereka untuk menghadapi si tukang kayu yang sangat fenomenal ini?...
"Apa yang membuat mereka harus menghadapi si tukang kayu ini secara bersama-sama?..."
Dalam pengamatan saya yang dangkal ini, saya menyimpulkan beberapa alasan mengapa 2 mantan jenderal ini harus bersatu dalam menghadapi seorang pemimpin yang memiliki tingkat pengalaman (jam terbang) yang jauh dibawah mereka secara politik:
1. Hasil Kerja Pak Jokowi Berbicara Lebih Kuat Kepada Rakyat Indonesia.
Mereka tidak bisa menyangkal bahwa hasil kerja Pak Jokowi telah membuat namanya dan popularitasnya makin moncer dibandingkan mereka berdua.
2. Indonesia Timur, Mayoritas Sudah Puas Dengan Pak Jokowi.
Mereka sadar bahwa suara pemilih terbesar di Indonesia Timur sudah pasti dikuasai Pak Jokowi akibat pemerataan pembangunan yang telah dibuatnya.
3. Mesin dan Kader Partai Sudah Tidak Bisa di Andalkan.
Mereka tahu kalau kelompok - kelompok pendukung mereka sudah di kebiri (Ormas radikal di kebiri lewat Perppu Ormas; kekuatan parlemen tersandera oleh kasus-kasus yang kapanpun siap untuk di proses).
4. People Power Sudah Banyak Yang Ada di Pihak Pak Jokowi.
Mereka tahu bahwa dukungan people power terhadap Pak Jokowi cukup besar (sudah sekitar diatas 60%.)
5. Teman Koalisi di 2014 Banyak Yang Tidak Kembali.
Mereka sudah membaca jika "beberapa partai" yang dulu ada di koalisi KMP tidak akan kembali lagi bersama mereka di Pilpres 2019. Bahkan mantan teman koalisinya akan mendukung Pak Jokowi.
6. Pak Jokowi Memiliki Team Strategi Yang Handal.
Mereka sadar sekali bahwa Pak Jokowi dibelakangnya didukung oleh orang-orang yang tidak bisa dianggap remeh dalam menghadapi permainan politik mereka
7. Tidak Percaya Diri & Rusaknya Reputasi.
Mereka sudah tidak percaya diri dengan reputasi partai yang mereka pimpin. Beberapa partai yang ada dikubu mereka bahkan sudah ada yang tercoreng namanya berkaitan dengan kasus korupsi yang melibatkan kader-kader mereka, khususnya Partai Keadilan Sejahtera yang selama ini menjadi satu - satunya partai pendukung yang sangat militan.

Itulah opini Saya, bagaimana dengan pendapat Anda?...

Salam Indonesia Raya...

Sumber Image: http://www.suara.com/foto/2017/07/28/113610/pertemuan-sby-dan-prabowo--page-2

Senin, 10 Juli 2017

Yusril Ihza Mahendra di Antara Ketepatan Waktu & Momentum


OPINI.WIN. Beberapa waktu ini, Pansus Angket KPK mengundang Pak Yusril Ihza Mahendra untuk dimintai pendapatnya mengenai Lembaga Antirasuah Indonesia (KPK). 

Undangan ini ternyata diterima dengan tangan terbuka oleh yang bersangkutan.

Jujur, sebenarnya Saya sangat kagum sama Pak Yusril Ihza Mahendra yang selalu datang disaat yang tepat ketika ada kejadian-kejadian yang terjadi di negeri ini...

Hanya saja sayang sekali walaupun beliau selalu datang di waktu yang tepat, tetapi ternyata beliau selalu "tidak mendapatkan momentumnya" 😃😃😃.

Banyak masyarakat yang tidak begitu tertarik dengan kontribusi yang beliau berikan untuk menyelesaikan beberapa masalah besar yang sedang terjadi di negeri ini.

Berikut ini peristiwa-peristiwanya:






Jadi apa pelajaran yang bisa kita petik dari hal ini?...


Pelajarannya adalah...

Ternyata waktu yang tepat tidak selamanya didalamnya terdapat yang namanya "MOMENTUM". Mengapa terkadang waktu yang tepat tidak mengandung momentum?...

Jawabannya sangat sederhana sekali...


Karena di waktu yang tepat, tidak semua orang memilih berada di pihak yang benar...

Beberapa kali kehadiran Pak Yusril pada saat yang tepat selalu memilih dibarisan yang tidak disukai rakyat...

Semoga kedepannya, jika Pak Yusril ingin mengambil bagian dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebangsaan, beliau bukan hanya dapat hadir diwaktu yang tepat, tetapi juga bisa bertemu dengan yang namanya momentum...

Ini opini Saya, bagaimana dengan opini Anda?...

Sabtu, 08 Juli 2017

JOKO WIDODO, PEMIMPIN BER"ANGKA & BER"NILAI


OPINI.WIN. Bukan nilai, tapi angka yang dapat membuat seseorang menang dan terpilih sebagai Pemimpin...

Bukan angka, tapi nilai yang dapat membuat seorang Pemimpin berguna buat negeri yang dipimpinnya...

Ada banyak Pemimpin yang fokusnya hanya pada kuantitas dibandingkan kualitas diri.

Seorang Pemimpin yang kuat dan sulit mendapatkan lawan tanding adalah Pemimpin yang bisa menguasai angka (suara) sebanyak-banyaknya & nilai yang berkualitas dalam dirinya...

Hal itu sudah dibuktikan oleh Pak Joko Widodo...


Pak Jokowi Menguasai Suara Parlemen

Waktu pertama kali menjadi Presiden, Parlemen dikuasai oleh lawan-lawan Politiknya...

Beliau tahu bahwa kemenangan di Parlemen hanya bisa didapat jika suara para oposisi direbut dari KMP...

Dan akhirnya dengan permainannya yang sangat aduhai, kini jumlah suara (angka) di senayan telah dikuasainya dan sekarang justru berada dibarisan pendukung Pemerintahan yang dipimpinnya...

Pak Jokowi Menguasai Nilai Luhur & Budaya Ke'Timur'an

Pak Jokowi memiliki nilai-nilai luhur dan budaya ketimuran dalam dirinya.

Selain menguasai jumlah suara di Parlemen, Pak De juga mampu menghadapi lawan-lawan politiknya dengan cara yang sangat halus, cerdas, cerdik dan santun.

Beliau menjawab kritikan dengan kerja nyata.

Beberapa prestasi dalam kepemimpinannya telah terbukti dan teruji dengan hal-hal yang tidak bisa disangkal banyak orang.

Dengan nilai-nilai keluhuran yang ada dalam dirinya, beliau mampu memperbaiki wilayah-wilayah di negeri ini.

Bukan hanya wilayah Jawa..

Tapi juga di Indonesia Wilayah Timur yang selama ini seperti di anak tirikan oleh Pemimpin-Pemimpin terdahulu, kini telah ikut mengalami perubahan dalam hal pembangunan kearah yang lebih baik dari sebelumnya.

Adakah Pemimpin ber'angka & ber'nilai di negeri ini seperti Pak Jokowi?...

Saya yakin sekali bahwa ada banyak Pemimpin seperti itu (salah satunya adalah Pak Basuki Tjahaja Purnama aka Ahok) yang bisa membawa negeri ini kepada percepatan pembangunan kearah yang lebih baik...

Mari dukung para Pemimpin Ber'Angka & Ber'Nilai seperti Pak Joko Widodo & Pak Basuki Tjahaja Purnama aka Ahok.

Salam Perjuangan Indonesia Raya...

Rabu, 17 Mei 2017

Dua Aset Bangsa Untuk Jabar


OPINI.WIN. Indonesia ini punya banyak putra putri daerah yang layak disebut sebagai aset bangsa karena kontribusinya yang cukup baik buat negeri ini...

Salah satunya di Jabar ada 2 putra daerah yang namanya sudah cukup dikenal banyak orang di luar jabar...

Sayang sekali kalau 2 aset bangsa yang ada di provinsi jabar ini tidak dijaga dan didukung dengan baik keberadaannya...

Kita juga tahu kalau di Jabar pada 2018 nanti akan ada gelaran Pilkada...

Menurut Saya kalau mau aman, mereka lebih baik jadi 1 paket saja...

Sayang banget kalau sampai saling berhadapan...

Kang Ridwan Kamil dan Kang Dedi Mulyadi ini aset bangsa yang mesti dipertahankan keberadaannya...

Mau kalau sampai Deddy Mizwar atau istrinya Aher menang? 😄😄😄

Untuk saat ini sih tanda-tanda mereka akan berjuang secara bersama dalam 1 paket di Pilkada Jabar belum nampak...

Semoga saja mendekati pilkada nanti mereka bisa menjadi pasangan 1 paket 😄😄

Mari dukung Kang Emil dan Kang Dedi untuk Jabar!!...

#RidwanKamil&DediMulyadiForJabar

Selasa, 16 Mei 2017

Kemenangan Anies - Sandi, Kemenangan Prabowo atau Jusuf Kalla?


OPINI.WIN. Selama ini banyak masyarakat yang menilai bahwa kemenangan Anies – Sandi dalam gelaran Pilkada DKI 2017 lalu, merupakan kemenangan dari kelompok Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya.

Tetapi pada hari ini (Selasa, 16 Mei 2017), lewat siaran yang sempat saya lihat di salah satu media televisi (Kompas TV), ada sesuatu yang cukup menarik dan yang saya rasa perlu untuk dibahas lewat tulisan saya kali ini.

Berita yang sempat saya lihat itu adalah tentang seorang mantan Menteri ESDM Sudirman Said yang ternyata dipilih menjadi Ketua Tim Sinkronisasi Anies – Sandi.


Sepintas lalu, ini adalah hal yang biasa saja...

Tetapi kalau kita mau kembali mundur ke belakang, maka ada sesuatu hal yang cukup menarik terjadi di dalam peta politik kubu Anies – Sandi.

Beberapa waktu yang lalu sempat beredar foto yang memuat seorang pejabat negara, yaitu Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama dengan beberapa orang yang dianggap memiliki kedekatan dengannya sedang menyaksikan acara quick count (hitung cepat) hasil pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017.

Isu mulai beredar bahwa, JK turut bermain didalam gelaran politik yang sedang terjadi di Jakarta.

Apalagi pernyataan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan mengenai keterlibatan JK didalam merekomendasikan nama Anies Baswedan semakin meyakinkan publik bahwa memang tidak bisa diragukan lagi jika Jusuf Kalla memang benar-benar turut bermain di dalam Pilkada DKI 2017.

Sekalipun sebenarnya sebagai seorang pejabat negara, beliau tidak seharusnya ikut bermain ataupun membuat langkah-langkah politik, tetapi semuanya sudah terjadi dan tidak bisa ditarik lagi.

Kembali kemasalah penunjukkan Sudirman Said sebagai Ketua Tim Sinkronisasi Anies – Sandi.

Jelas sudah bahwa orang dekat JK kini ada yang di ring 1 DKI   

Semua orang tahu bahwa Sudirman Said dikenal sangat dekat dengan JK, bahkan bisa dibilang sebagai orang dekatnya.

Jadi dengan demikian pertanyaannya adalah, kemenangan Anies – Sandi ini merupakan kemenangannya siapa? Benarkah kemenangan Anies – Sandi adalah kemenangan Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya?

Ataukah kemenangan Anies – Sandi ini tanpa disadari selama ini ternyata merupakan kemenangan Bapak Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla?

Jika kemenangan Anies –Sandi ini merupakan kemenangan Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya, mengapa Ketua Tim Sinkronisasi tidak di pilih dari kubu mereka?...

Tapi sebaliknya, jika kemenangan Anies – Sandi ini adalah kemenangan Jusuf Kalla, mungkinkah Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya akan mendapatkan bagian yang lebih sedikit?...

Rasa-rasanya hanya Tuhan Yang Maha Esa & Kak Emma saja yang tahu soal rahasia ini....

Just kidding bro / sis 😁   😁 

Sepertinya pertanyaan diatas hanya mereka yang tahu dan yang bisa menjelaskannya...

Tetapi dengan kejadian ini, terlihat sudah bahwa sebenarnya di dalam kubu Anies – Sandi ada 2 kelompok yang memiliki kepentingan yang berbeda.

Pertama adalah kelompoknya Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya dan yang kedua adalah kelompok dari Jusuf Kalla.

Semoga saja didalam kepemimpinan Anies – Sandi pada Oktober 2017 nanti, tidak terjadi tarik menarik kepentingan dari 2 kelompok ini yang dapat mengganggu jalannya roda pemerintahan di DKI Jakarta.

Lalu apa jawaban dari judul artikel ini? Siapakah yang menjadi pemenang yang sesungguhnya dari kemenangan Anies – Sandi ini?

Menurut saya, pemenangnya adalah 2 kelompok yang saya sebutkan tadi. Hanya saja masing-masing kelompok itu tidak menang secara mutlak, karena kemenangan Anies – Sandi tentunya di bagi 2 oleh kelompok tersebut.

Masing-masing mendapatkan setidaknya 50% keuntungan dari kemenangan Anies – Sandi...

Jadi kesimpulannya, ternyata Pemerintahan Anies – Sandi sepertinya tidak hanya tersandera dan harus berhadapan dengan kepentingan dari kelompok Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya saja, melainkan juga harus berhadapan dengan kepentingan dari kelompoknya Jusuf Kalla.

Akhirnya kita jadi makin tahu bahwa Anies – Sandi akan menjalani roda pemerintahan di DKI Jakarta ini dengan sangat cukup berat.

Dan semoga Jakarta tidak kembali kepada kondisi yang sangat buruk...


Salam Indonesia Raya


Jumat, 28 April 2017

(Analisa Pribadi) Misteri Fenomena Karangan Bunga Buat Ahok



OPINI.WIN. Dibalik kekalahan Ahok - Djarot dalam Pemilihan Kepala Daerah di DKI Jakarta, ternyata telah memunculkan satu fenomena baru yang sangat luar biasa hebohnya.

Fenomena ini menjadi perhatian banyak pihak, baik di Jakarta sendiri maupun sampai di daerah - daerah lain, bahkan mungkin juga sampai ke manca negara.

Semua tahu kalau dalam beberapa hari terakhir ini banyak sekali warga yang mengirimkan karangan bunga yang ditujukan ke Basuki - Djarot di Balai Kota.

Karangan bunga itu ternyata bukan hanya datang dari warga Jakarta tetapi juga dari warga luar Jakarta. 

Dan yang lebih hebohnya lagi, karangan bunga yang diberikan ke Ahok dan Djarot itu bukan hanya di tujukan ke balai kota saja, melainkan kabar yang sempat saya dengar ada karangan bunga yang dikirim ke balai kota di daerah - daerah yang warganya ingin turut serta dalam memberikan apresiasi kepada Ahok dan Djarot, 

Sampai saat ini karangan bunga yang diberikan warga di Balai Kota Jakarta sudah mencapai lebih dari 3000 (1).

Buat saya ini adalah suatu fenomena yang sangat langka sekali terjadi...

Bagimana mungkin seorang yang kalah dalam suatu Pemilihan Kepala Daerah justru mendapatkan respon yang sangat luar biasa besarnya dari warga yang pernah dipimpinnya.

Bukankah seharusnya justru yang menang yang mendapatkan perlakuan seperti ini?

"Pertanyaannya adalah, ada apa dengan fenomena ini?..." 

Apakah ada sesuatu yang ingin Tuhan sampaikan kepada kita semua mengenai sosok Ahok ini?...

Selama ini secara pribadi saya melihat bahwa Pak Ahok ini memiliki kapasitas diatas seorang Gubernur.

Dengan adanya fenomena seperti sekarang ini, saya menjadi semakin yakin bahwa memang Ahok sudah waktunya untuk dibutuhkan oleh negeri ini, bukan hanya untuk 1 daerah tapi untuk seluruh rakyat Indonesia.

Buat saya, karangan bunga yang ditujukan ke Ahok ini bukan sekedar sebagai ungkapan apresiasi dan ucapan terima kasih saja, tetapi menurut pendapat pribadi saya, ini adalah sebagai sebuah pernyataan Ilahi, bahwa Ahok dibutuhkan seluruh rakyat Indonesia.

"Dan jika apa yang saya yakini ini benar, maka saya makin percaya bahwa sekaranglah waktunya Ahok naik level.."

Gerakan massa di dalam memberikan apresiasi kepada Ahok lewat karangan bunga inilah yang membuat saya yakin bahwa inilah waktunya Ahok memberikan hidupnya dan mengabdikan hidupnya bukan hanya untuk Jakarta tapi untuk seluruh rakyat Indonesia.

Begitulah kira - kira analisa saya...

Sumber image: kompas

Pak Anies Baswedan, Berdamailah Dengan Dirimu Dulu



OPINI.WIN. Maraknya kiriman karangan bunga yang ditujukan ke Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot di Balai Kota justru kini di tanggapi secara tidak logis oleh berbagai kalangan yang berada dibarisan Gubernur terpilih Anies Baswedan.

Ada yang mengatakan bahwa karangan bunga itu bukan datang dari warga Jakarta, tetapi justru hasil dari settingan team nya Pak Ahok.

Yang lebih menggelikan lagi adalah datangnya reaksi dari Anies Baswedan secara pribadi...

Bagi Saya secara pribadi, mau kiriman bunganya rekayasa atau tidak, seharusnya Pak Anies tidak perlu sampai kepo gitu dengan melakukan upaya cek and ricek segala (kalau salah mohon dikoreksi ya...)   

Cek and ricek (Sumber: FB)

Menurut saya, "Pak Anies itu belum selesai dengan dirinya sendiri"...

Justru hal tersebut makin memberikan tanda bahwa sebenarnya Pak Anies Baswedan itu belum berdamai dengan dirinya sendiri...

Sudahlah Pak Anies, Anda itu kan sudah menang dalam pemilihan Gubernur DKI? Siapin saja program - program yang akan dijalankan setelah pelantikan nanti?

Dari pada Bapak repot - repot ngurusin masalah bunga, lebih baik kan Bapak membentuk team inti untuk membantu Bapak dalam mengeksekusi program - program yang sudah dijanjikan dan dipersiapkan?

Apalagi 2 target bapak sudah tercapai, yaitu menjadi Gubernur DKI Jakarta dan menjadi orang yang ingin men'sejahtera'kan warga DKI Jakarta?

Bagaimana Pak Anies bisa menyelesaikan persoalan - persoalan yang ada di jakarta kalau persoalan dengan dirinya sendiri saja Bapak masih belum bisa menyelesaikan   

Saran saya cuma 1 saja ke Pak Anies, ayolah Pak jangan baper and kepo gituu   


Kamis, 13 April 2017

Anies Baswedan Tidak Cocok Jadi Gubernur DKI




OPINI.WIN. Bukan sekali dua kali Anies Baswedan selalu membuat pernyataan tentang "Keberpihakan".

Terakhir kali pernyatan tersebut kembali diucapkan pada acara Debat Final Putaran Kedua Pilkada DKI pada 12 April 2017.

Menurut Anies yang paling penting adalah masalah keberpihakan...

Ternyata salah satu keyword andalannya Anies Baswedan adalah "ini soal keberpihakan"

Saya akhirnya jadi berpikir, bagaimana mungkin Anies Baswedan bisa jadi Pemimpin yang amanah kalau salah satu statetment andalannya adalah "Ini soal keberpihakan"

Bagi Saya secara pribadi, Pemimpin yang amanah itu tidak boleh berpihak tapi harus bisa berlaku adil...

 

Demi keadilan, dia seharusnya tidak boleh berpihak...


Kalau rakyat salah ya tidak boleh dibiarin dan dibela mati - matian donk?...

Kalau pengusaha salah ya tidak boleh dibiarin dan dibela mati - matian donk?...

Kalau oknum birokrat salah ya tidak boleh dibiarin dan dibela mati - matian donk?...

Kalau orang dekatnya salah ya tidak boleh dibiarin dan dibela mati - matian donk?...

Mau rakyat kecil, pengusaha, oknum birokrat, maupun orang dekatnya, kalau mereka salah, ya harus ditindak sesuai dengan undang - undang yang berlaku di negeri ini.

Oleh karena itu, secara pribadi Saya berpendapat jika Anies Baswedan itu sebenarnya tidak cocok untuk menjadi Gubernur DKI...

Begitulah Opini Saya...

Image ; liputan6.com