Senin, 10 Juli 2017

Yusril Ihza Mahendra di Antara Ketepatan Waktu & Momentum


OPINI.WIN. Beberapa waktu ini, Pansus Angket KPK mengundang Pak Yusril Ihza Mahendra untuk dimintai pendapatnya mengenai Lembaga Antirasuah Indonesia (KPK). 

Undangan ini ternyata diterima dengan tangan terbuka oleh yang bersangkutan.

Jujur, sebenarnya Saya sangat kagum sama Pak Yusril Ihza Mahendra yang selalu datang disaat yang tepat ketika ada kejadian-kejadian yang terjadi di negeri ini...

Hanya saja sayang sekali walaupun beliau selalu datang di waktu yang tepat, tetapi ternyata beliau selalu "tidak mendapatkan momentumnya" 😃😃😃.

Banyak masyarakat yang tidak begitu tertarik dengan kontribusi yang beliau berikan untuk menyelesaikan beberapa masalah besar yang sedang terjadi di negeri ini.

Berikut ini peristiwa-peristiwanya:






Jadi apa pelajaran yang bisa kita petik dari hal ini?...


Pelajarannya adalah...

Ternyata waktu yang tepat tidak selamanya didalamnya terdapat yang namanya "MOMENTUM". Mengapa terkadang waktu yang tepat tidak mengandung momentum?...

Jawabannya sangat sederhana sekali...


Karena di waktu yang tepat, tidak semua orang memilih berada di pihak yang benar...

Beberapa kali kehadiran Pak Yusril pada saat yang tepat selalu memilih dibarisan yang tidak disukai rakyat...

Semoga kedepannya, jika Pak Yusril ingin mengambil bagian dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebangsaan, beliau bukan hanya dapat hadir diwaktu yang tepat, tetapi juga bisa bertemu dengan yang namanya momentum...

Ini opini Saya, bagaimana dengan opini Anda?...

Sabtu, 08 Juli 2017

JOKO WIDODO, PEMIMPIN BER"ANGKA & BER"NILAI


OPINI.WIN. Bukan nilai, tapi angka yang dapat membuat seseorang menang dan terpilih sebagai Pemimpin...

Bukan angka, tapi nilai yang dapat membuat seorang Pemimpin berguna buat negeri yang dipimpinnya...

Ada banyak Pemimpin yang fokusnya hanya pada kuantitas dibandingkan kualitas diri.

Seorang Pemimpin yang kuat dan sulit mendapatkan lawan tanding adalah Pemimpin yang bisa menguasai angka (suara) sebanyak-banyaknya & nilai yang berkualitas dalam dirinya...

Hal itu sudah dibuktikan oleh Pak Joko Widodo...


Pak Jokowi Menguasai Suara Parlemen

Waktu pertama kali menjadi Presiden, Parlemen dikuasai oleh lawan-lawan Politiknya...

Beliau tahu bahwa kemenangan di Parlemen hanya bisa didapat jika suara para oposisi direbut dari KMP...

Dan akhirnya dengan permainannya yang sangat aduhai, kini jumlah suara (angka) di senayan telah dikuasainya dan sekarang justru berada dibarisan pendukung Pemerintahan yang dipimpinnya...

Pak Jokowi Menguasai Nilai Luhur & Budaya Ke'Timur'an

Pak Jokowi memiliki nilai-nilai luhur dan budaya ketimuran dalam dirinya.

Selain menguasai jumlah suara di Parlemen, Pak De juga mampu menghadapi lawan-lawan politiknya dengan cara yang sangat halus, cerdas, cerdik dan santun.

Beliau menjawab kritikan dengan kerja nyata.

Beberapa prestasi dalam kepemimpinannya telah terbukti dan teruji dengan hal-hal yang tidak bisa disangkal banyak orang.

Dengan nilai-nilai keluhuran yang ada dalam dirinya, beliau mampu memperbaiki wilayah-wilayah di negeri ini.

Bukan hanya wilayah Jawa..

Tapi juga di Indonesia Wilayah Timur yang selama ini seperti di anak tirikan oleh Pemimpin-Pemimpin terdahulu, kini telah ikut mengalami perubahan dalam hal pembangunan kearah yang lebih baik dari sebelumnya.

Adakah Pemimpin ber'angka & ber'nilai di negeri ini seperti Pak Jokowi?...

Saya yakin sekali bahwa ada banyak Pemimpin seperti itu (salah satunya adalah Pak Basuki Tjahaja Purnama aka Ahok) yang bisa membawa negeri ini kepada percepatan pembangunan kearah yang lebih baik...

Mari dukung para Pemimpin Ber'Angka & Ber'Nilai seperti Pak Joko Widodo & Pak Basuki Tjahaja Purnama aka Ahok.

Salam Perjuangan Indonesia Raya...

Rabu, 17 Mei 2017

Dua Aset Bangsa Untuk Jabar


OPINI.WIN. Indonesia ini punya banyak putra putri daerah yang layak disebut sebagai aset bangsa karena kontribusinya yang cukup baik buat negeri ini...

Salah satunya di Jabar ada 2 putra daerah yang namanya sudah cukup dikenal banyak orang di luar jabar...

Sayang sekali kalau 2 aset bangsa yang ada di provinsi jabar ini tidak dijaga dan didukung dengan baik keberadaannya...

Kita juga tahu kalau di Jabar pada 2018 nanti akan ada gelaran Pilkada...

Menurut Saya kalau mau aman, mereka lebih baik jadi 1 paket saja...

Sayang banget kalau sampai saling berhadapan...

Kang Ridwan Kamil dan Kang Dedi Mulyadi ini aset bangsa yang mesti dipertahankan keberadaannya...

Mau kalau sampai Deddy Mizwar atau istrinya Aher menang? 😄😄😄

Untuk saat ini sih tanda-tanda mereka akan berjuang secara bersama dalam 1 paket di Pilkada Jabar belum nampak...

Semoga saja mendekati pilkada nanti mereka bisa menjadi pasangan 1 paket 😄😄

Mari dukung Kang Emil dan Kang Dedi untuk Jabar!!...

#RidwanKamil&DediMulyadiForJabar

Selasa, 16 Mei 2017

Kemenangan Anies - Sandi, Kemenangan Prabowo atau Jusuf Kalla?


OPINI.WIN. Selama ini banyak masyarakat yang menilai bahwa kemenangan Anies – Sandi dalam gelaran Pilkada DKI 2017 lalu, merupakan kemenangan dari kelompok Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya.

Tetapi pada hari ini (Selasa, 16 Mei 2017), lewat siaran yang sempat saya lihat di salah satu media televisi (Kompas TV), ada sesuatu yang cukup menarik dan yang saya rasa perlu untuk dibahas lewat tulisan saya kali ini.

Berita yang sempat saya lihat itu adalah tentang seorang mantan Menteri ESDM Sudirman Said yang ternyata dipilih menjadi Ketua Tim Sinkronisasi Anies – Sandi.


Sepintas lalu, ini adalah hal yang biasa saja...

Tetapi kalau kita mau kembali mundur ke belakang, maka ada sesuatu hal yang cukup menarik terjadi di dalam peta politik kubu Anies – Sandi.

Beberapa waktu yang lalu sempat beredar foto yang memuat seorang pejabat negara, yaitu Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama dengan beberapa orang yang dianggap memiliki kedekatan dengannya sedang menyaksikan acara quick count (hitung cepat) hasil pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017.

Isu mulai beredar bahwa, JK turut bermain didalam gelaran politik yang sedang terjadi di Jakarta.

Apalagi pernyataan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan mengenai keterlibatan JK didalam merekomendasikan nama Anies Baswedan semakin meyakinkan publik bahwa memang tidak bisa diragukan lagi jika Jusuf Kalla memang benar-benar turut bermain di dalam Pilkada DKI 2017.

Sekalipun sebenarnya sebagai seorang pejabat negara, beliau tidak seharusnya ikut bermain ataupun membuat langkah-langkah politik, tetapi semuanya sudah terjadi dan tidak bisa ditarik lagi.

Kembali kemasalah penunjukkan Sudirman Said sebagai Ketua Tim Sinkronisasi Anies – Sandi.

Jelas sudah bahwa orang dekat JK kini ada yang di ring 1 DKI   

Semua orang tahu bahwa Sudirman Said dikenal sangat dekat dengan JK, bahkan bisa dibilang sebagai orang dekatnya.

Jadi dengan demikian pertanyaannya adalah, kemenangan Anies – Sandi ini merupakan kemenangannya siapa? Benarkah kemenangan Anies – Sandi adalah kemenangan Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya?

Ataukah kemenangan Anies – Sandi ini tanpa disadari selama ini ternyata merupakan kemenangan Bapak Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla?

Jika kemenangan Anies –Sandi ini merupakan kemenangan Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya, mengapa Ketua Tim Sinkronisasi tidak di pilih dari kubu mereka?...

Tapi sebaliknya, jika kemenangan Anies – Sandi ini adalah kemenangan Jusuf Kalla, mungkinkah Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya akan mendapatkan bagian yang lebih sedikit?...

Rasa-rasanya hanya Tuhan Yang Maha Esa & Kak Emma saja yang tahu soal rahasia ini....

Just kidding bro / sis 😁   😁 

Sepertinya pertanyaan diatas hanya mereka yang tahu dan yang bisa menjelaskannya...

Tetapi dengan kejadian ini, terlihat sudah bahwa sebenarnya di dalam kubu Anies – Sandi ada 2 kelompok yang memiliki kepentingan yang berbeda.

Pertama adalah kelompoknya Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya dan yang kedua adalah kelompok dari Jusuf Kalla.

Semoga saja didalam kepemimpinan Anies – Sandi pada Oktober 2017 nanti, tidak terjadi tarik menarik kepentingan dari 2 kelompok ini yang dapat mengganggu jalannya roda pemerintahan di DKI Jakarta.

Lalu apa jawaban dari judul artikel ini? Siapakah yang menjadi pemenang yang sesungguhnya dari kemenangan Anies – Sandi ini?

Menurut saya, pemenangnya adalah 2 kelompok yang saya sebutkan tadi. Hanya saja masing-masing kelompok itu tidak menang secara mutlak, karena kemenangan Anies – Sandi tentunya di bagi 2 oleh kelompok tersebut.

Masing-masing mendapatkan setidaknya 50% keuntungan dari kemenangan Anies – Sandi...

Jadi kesimpulannya, ternyata Pemerintahan Anies – Sandi sepertinya tidak hanya tersandera dan harus berhadapan dengan kepentingan dari kelompok Prabowo (Gerindra) dan teman-teman koalisinya saja, melainkan juga harus berhadapan dengan kepentingan dari kelompoknya Jusuf Kalla.

Akhirnya kita jadi makin tahu bahwa Anies – Sandi akan menjalani roda pemerintahan di DKI Jakarta ini dengan sangat cukup berat.

Dan semoga Jakarta tidak kembali kepada kondisi yang sangat buruk...


Salam Indonesia Raya


Jumat, 28 April 2017

(Analisa Pribadi) Misteri Fenomena Karangan Bunga Buat Ahok



OPINI.WIN. Dibalik kekalahan Ahok - Djarot dalam Pemilihan Kepala Daerah di DKI Jakarta, ternyata telah memunculkan satu fenomena baru yang sangat luar biasa hebohnya.

Fenomena ini menjadi perhatian banyak pihak, baik di Jakarta sendiri maupun sampai di daerah - daerah lain, bahkan mungkin juga sampai ke manca negara.

Semua tahu kalau dalam beberapa hari terakhir ini banyak sekali warga yang mengirimkan karangan bunga yang ditujukan ke Basuki - Djarot di Balai Kota.

Karangan bunga itu ternyata bukan hanya datang dari warga Jakarta tetapi juga dari warga luar Jakarta. 

Dan yang lebih hebohnya lagi, karangan bunga yang diberikan ke Ahok dan Djarot itu bukan hanya di tujukan ke balai kota saja, melainkan kabar yang sempat saya dengar ada karangan bunga yang dikirim ke balai kota di daerah - daerah yang warganya ingin turut serta dalam memberikan apresiasi kepada Ahok dan Djarot, 

Sampai saat ini karangan bunga yang diberikan warga di Balai Kota Jakarta sudah mencapai lebih dari 3000 (1).

Buat saya ini adalah suatu fenomena yang sangat langka sekali terjadi...

Bagimana mungkin seorang yang kalah dalam suatu Pemilihan Kepala Daerah justru mendapatkan respon yang sangat luar biasa besarnya dari warga yang pernah dipimpinnya.

Bukankah seharusnya justru yang menang yang mendapatkan perlakuan seperti ini?

"Pertanyaannya adalah, ada apa dengan fenomena ini?..." 

Apakah ada sesuatu yang ingin Tuhan sampaikan kepada kita semua mengenai sosok Ahok ini?...

Selama ini secara pribadi saya melihat bahwa Pak Ahok ini memiliki kapasitas diatas seorang Gubernur.

Dengan adanya fenomena seperti sekarang ini, saya menjadi semakin yakin bahwa memang Ahok sudah waktunya untuk dibutuhkan oleh negeri ini, bukan hanya untuk 1 daerah tapi untuk seluruh rakyat Indonesia.

Buat saya, karangan bunga yang ditujukan ke Ahok ini bukan sekedar sebagai ungkapan apresiasi dan ucapan terima kasih saja, tetapi menurut pendapat pribadi saya, ini adalah sebagai sebuah pernyataan Ilahi, bahwa Ahok dibutuhkan seluruh rakyat Indonesia.

"Dan jika apa yang saya yakini ini benar, maka saya makin percaya bahwa sekaranglah waktunya Ahok naik level.."

Gerakan massa di dalam memberikan apresiasi kepada Ahok lewat karangan bunga inilah yang membuat saya yakin bahwa inilah waktunya Ahok memberikan hidupnya dan mengabdikan hidupnya bukan hanya untuk Jakarta tapi untuk seluruh rakyat Indonesia.

Begitulah kira - kira analisa saya...

Sumber image: kompas

Pak Anies Baswedan, Berdamailah Dengan Dirimu Dulu



OPINI.WIN. Maraknya kiriman karangan bunga yang ditujukan ke Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot di Balai Kota justru kini di tanggapi secara tidak logis oleh berbagai kalangan yang berada dibarisan Gubernur terpilih Anies Baswedan.

Ada yang mengatakan bahwa karangan bunga itu bukan datang dari warga Jakarta, tetapi justru hasil dari settingan team nya Pak Ahok.

Yang lebih menggelikan lagi adalah datangnya reaksi dari Anies Baswedan secara pribadi...

Bagi Saya secara pribadi, mau kiriman bunganya rekayasa atau tidak, seharusnya Pak Anies tidak perlu sampai kepo gitu dengan melakukan upaya cek and ricek segala (kalau salah mohon dikoreksi ya...)   

Cek and ricek (Sumber: FB)

Menurut saya, "Pak Anies itu belum selesai dengan dirinya sendiri"...

Justru hal tersebut makin memberikan tanda bahwa sebenarnya Pak Anies Baswedan itu belum berdamai dengan dirinya sendiri...

Sudahlah Pak Anies, Anda itu kan sudah menang dalam pemilihan Gubernur DKI? Siapin saja program - program yang akan dijalankan setelah pelantikan nanti?

Dari pada Bapak repot - repot ngurusin masalah bunga, lebih baik kan Bapak membentuk team inti untuk membantu Bapak dalam mengeksekusi program - program yang sudah dijanjikan dan dipersiapkan?

Apalagi 2 target bapak sudah tercapai, yaitu menjadi Gubernur DKI Jakarta dan menjadi orang yang ingin men'sejahtera'kan warga DKI Jakarta?

Bagaimana Pak Anies bisa menyelesaikan persoalan - persoalan yang ada di jakarta kalau persoalan dengan dirinya sendiri saja Bapak masih belum bisa menyelesaikan   

Saran saya cuma 1 saja ke Pak Anies, ayolah Pak jangan baper and kepo gituu   


Kamis, 13 April 2017

Anies Baswedan Tidak Cocok Jadi Gubernur DKI




OPINI.WIN. Bukan sekali dua kali Anies Baswedan selalu membuat pernyataan tentang "Keberpihakan".

Terakhir kali pernyatan tersebut kembali diucapkan pada acara Debat Final Putaran Kedua Pilkada DKI pada 12 April 2017.

Menurut Anies yang paling penting adalah masalah keberpihakan...

Ternyata salah satu keyword andalannya Anies Baswedan adalah "ini soal keberpihakan"

Saya akhirnya jadi berpikir, bagaimana mungkin Anies Baswedan bisa jadi Pemimpin yang amanah kalau salah satu statetment andalannya adalah "Ini soal keberpihakan"

Bagi Saya secara pribadi, Pemimpin yang amanah itu tidak boleh berpihak tapi harus bisa berlaku adil...

 

Demi keadilan, dia seharusnya tidak boleh berpihak...


Kalau rakyat salah ya tidak boleh dibiarin dan dibela mati - matian donk?...

Kalau pengusaha salah ya tidak boleh dibiarin dan dibela mati - matian donk?...

Kalau oknum birokrat salah ya tidak boleh dibiarin dan dibela mati - matian donk?...

Kalau orang dekatnya salah ya tidak boleh dibiarin dan dibela mati - matian donk?...

Mau rakyat kecil, pengusaha, oknum birokrat, maupun orang dekatnya, kalau mereka salah, ya harus ditindak sesuai dengan undang - undang yang berlaku di negeri ini.

Oleh karena itu, secara pribadi Saya berpendapat jika Anies Baswedan itu sebenarnya tidak cocok untuk menjadi Gubernur DKI...

Begitulah Opini Saya...

Image ; liputan6.com

Senin, 02 Januari 2017

Anies Telah Bermetamorfosis



OPINI.WIN. Tidak sedikit orang yang dulunya mengagumi Pak Anies Baswedan (termasuk Saya), sekarang menjadi sangat kecewa berat karena perkataan, sikap dan tindakannya yang mulai kelihatan menjauh dari kepribadiannya yang dulu dikenal sangat santun dan berwawasan luas.

Banyak dari mereka yang bukan hanya kecewa tetapi sulit untuk move on dari "rasa" yang pernah ada terhadap Pak Anies yang terkenal santun dan terpelajar 😁😊...

Hari ini Saya hanya ingin mengingatkan kepada teman-teman yang sudah terjangkiti virus kecewa berat dan yang sulit untuk move on dari Pak Anies Baswedan untuk segera mengambil sikap agar tidak berlarut-larut menyimpan rasa kecewa, marah dan benci terhadapnya.

Mengapa Saya menyarankan untuk berhenti menyimpan rasa kecewa, marah dan benci?...

Jawabannya hanya satu, KARENA Pak Anies Baswedan sudah tidak mungkin (menurut pendapat pribadi) bisa kembali seperti yang dulu.

Dia kini sudah berubah!!...

Pak Anies yang sekarang bukanlah Pak Anies yang dulu...

Terimalah itu dengan hati yang lapang...

Pak Anies yang dulu aktivis, kini telah berubah menjadi Pak Anies yang politisi...

Pak Anies yang dulu santun, kini telah berubah menjadi Pak Anies yang suka menyerang...

Pak Anies yang dulu sering bikin adem hati, kini telah berubah menjadi Pak Anies yang sering bikin kesal hati...

Pak Anies yang dulu anti terhadap perobek ke’bhineka’an, kini telah membangun hubungan dengan yang dulu pernah diserangnya...

Pak Anies yang dulu akedemisi, kini telah menjadi Pak Anies yang oportunis...

Masihkah Kita mengharap Pak Anies kembali seperti yang dulu?...

Rasanya harapan itu akan seperti peribahasa yang mengatakan “Bagai pungguk merindukan bulan” (menginginkan sesuatu hal yang tidak mungkin dapat terwujud).

Saatnya kini Kita mengharapkan sesuatu yang pasti!!...

Tinggalkanlah yang sudah tidak bisa memberikan harapan dan kepastian...

Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, kini Pak Anies Baswedan sudah bermetamorfosis (KBBI - berubah kedudukan: tingkat, martabat)...

Dia telah berubah...

Dia tidak seperti dulu dan sudah tidak bisa Kita harapkan lagi.

Karakter, kepribadian, cara bicara dan cara pandangnya yang seperti sekarang ini, rasanya sangat sulit bisa diharapkan untuk menjadi pemimpin yang berkualitas...

Pak Anies bukanlah seorang yang konsisten terhadap apa yang diyakininya...

Beliau suka berubah dengan segala apa yang pernah dikatakan dan diputuskannya (malah kalau boleh jujur, habis rizieq syihab justru lebih konsisten dibandingkan beliau)...

Tulisan ini Saya buat sebagai ungkapan rasa kecewa atas keputusan Pak Anies Baswedan yang bersifat politis dengan mengabaikan nilai-nilai positif yang selama ini dia miliki...

Sekalipun Saya tidak yakin bahwa Pak Anies bisa kembali seperti dulu, tetapi Saya tetap berharap agar Pak Anies Baswedan bisa kembali kejalan yang dulu pernah dia hidupi...

Begitulah akhirnyaaa...

Image by kompasiana.com